Film  

Kesan Nonton Film Korea One Punch (2019): Sekali Pukul, Harga Diri Dipertaruhkan

Kesan Nonton Film Korea One Punch (2019): Sekali Pukul, Harga Diri Dipertaruhkan
Kesan Nonton Film Korea One Punch (2019): Sekali Pukul, Harga Diri Dipertaruhkan. Foto: Istimewa

FILM, Jambiwin.com – Ada film yang membuat kita terhibur.
Ada film yang membuat kita terharu.
Dan ada film seperti One Punch — yang membuat kita tidak nyaman… tapi justru karena itu terasa jujur.

Film ini tidak menawarkan aksi koreografi mewah seperti film gangster Korea kebanyakan. Tidak juga punya skala produksi besar seperti film laga box office. Tapi justru di situlah kekuatannya. One Punch adalah kisah sederhana tentang seorang remaja yang hidupnya terpojok oleh kekerasan sekolah — dan bagaimana satu momen perlawanan mengubah arah hidupnya.

Judulnya memang terdengar seperti film superhero. Tapi ini bukan tentang kekuatan super. Ini tentang keberanian.

Sinopsis Singkat (Tanpa Spoiler Berat)

Cerita berpusat pada seorang siswa SMA yang menjadi korban bullying brutal. Ia bukan anak populer. Bukan atlet. Bukan pula anak dari keluarga berada. Ia tipikal siswa “tak terlihat” — sampai akhirnya menjadi target empuk kelompok perundung.

Kekerasan yang ia alami bukan sekadar ejekan verbal. Ada tekanan psikologis, ancaman fisik, dan isolasi sosial. Film ini cukup berani menampilkan realitas pahit sistem hierarki sekolah yang kadang kejam.
Di tengah keputusasaan itu, hadir sosok mentor (diperankan oleh Lee Yi-kyung) yang melihat potensi dalam dirinya. Bukan potensi untuk menjadi jagoan, tapi potensi untuk berdiri tegak.

Dan dari sanalah “one punch” itu lahir — bukan sekadar pukulan fisik, tapi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Kesan Emosional: Realistis dan Menyesakkan
Yang paling terasa saat menonton film ini adalah atmosfernya yang realistis. Kamera tidak terlalu dramatis. Musik tidak berlebihan. Dialog terasa natural. Semua dibuat seperti potongan kehidupan sehari-hari.

Ada adegan-adegan yang membuat kita frustrasi. Ingin masuk ke layar dan menghentikan perundungan itu. Tapi film ini tidak memberikan solusi instan. Tidak ada polisi datang tepat waktu. Tidak ada guru heroik yang tiba-tiba menyelamatkan.
Justru itu yang membuatnya kuat.

Film ini seolah berkata:
“Kadang dalam hidup, tidak ada yang menyelamatkanmu selain dirimu sendiri.”
Lee Yi-kyung: Peran yang Berbeda
Bagi penonton yang mengenal Lee Yi-kyung lewat peran komedi seperti di drama populer, melihatnya di film ini memberi nuansa berbeda.

Ia tampil lebih tenang, lebih dewasa, dan lebih membumi. Karakternya bukan sosok sempurna. Ia juga punya luka masa lalu. Tapi justru karena itu ia bisa memahami sang remaja.

Chemistry antara mentor dan murid terasa tulus. Tidak dibuat-buat. Hubungan mereka berkembang perlahan, tanpa adegan melodrama berlebihan.

Tema Besar: Bullying dan Maskulinitas
One Punch sebenarnya berbicara tentang dua hal besar:

1. Bullying sebagai Sistem

Film ini menunjukkan bahwa perundungan sering kali bukan hanya ulah satu orang jahat. Ia bisa menjadi budaya diam-diam yang dibiarkan. Teman-teman yang menonton tanpa membantu. Guru yang pura-pura tidak tahu. Sistem yang gagal melindungi.

2. Definisi Kekuatan

“Pukul balik” dalam film ini bukan glorifikasi kekerasan. Justru film ini mempertanyakan: apa itu kekuatan sejati?
Apakah menjadi kuat berarti bisa mengalahkan orang lain?

Atau berarti berani berdiri meski takut?
Film ini condong ke jawaban kedua.
Perbandingan dengan Film Korea Bertema Serupa

Kalau dibandingkan dengan film atau drama Korea lain bertema bullying seperti:
A Violent Prosecutor (2016) – lebih ke arah thriller hukum.

The King of Pigs (2011/2022) – jauh lebih gelap dan brutal secara psikologis.
Weak Hero Class 1 (2022) – lebih strategis dan penuh taktik.

One Punch terasa lebih sederhana dan intim. Tidak sebrutal The King of Pigs, tidak secerdas taktik seperti Weak Hero, dan tidak se-stylish drama produksi besar.
Tapi justru kesederhanaannya membuatnya lebih membumi.

Kelebihan Film
✔ Realistis dan emosional
✔ Akting natural
✔ Pesan moral kuat tanpa menggurui
✔ Cocok untuk remaja dan orang tua

Kekurangan Film
✖ Produksi tidak sebesar film komersial
✖ Beberapa adegan terasa lambat
✖ Minim aksi bagi penonton yang mencari laga intens

Pesan Moral yang Tersisa
Setelah kredit akhir muncul, saya justru terdiam beberapa saat.

Film ini tidak memberi akhir yang terlalu bombastis. Tapi ia meninggalkan pertanyaan dalam kepala:
Berapa banyak “anak tak terlihat” di sekitar kita?
Dan apakah kita diam seperti kebanyakan orang dalam film?

“One punch” dalam hidup mungkin bukan selalu pukulan fisik. Bisa jadi itu keputusan untuk berbicara. Untuk melapor. Untuk melawan rasa takut.

Dan mungkin… itu sudah cukup.

Apakah Layak Ditonton?

Kalau kamu mencari film aksi penuh ledakan dan koreografi brutal, mungkin ini bukan pilihan utama.

Tapi kalau kamu ingin drama remaja yang jujur, reflektif, dan relevan dengan isu sosial — One Punch (2019) layak masuk daftar tontonan.

Rating pribadi: 7,5/10

Bukan karena sempurna. Tapi karena berani jujur. (edo)