Kesan Nonton Film Fidelity (2019): Ketika Cinta, Hasrat, dan Kesetiaan Tidak Lagi Sederhana

Kesan Nonton Film Fidelity (2019): Ketika Cinta, Hasrat, dan Kesetiaan Tidak Lagi Sederhana
Kesan Nonton Film Fidelity (2019): Ketika Cinta, Hasrat, dan Kesetiaan Tidak Lagi Sederhana. Foto: Ist

FILM, Jambiwin.com – Menonton Fidelity (2019) bukan pengalaman yang ringan. Film Rusia karya Nigina Sayfullaeva ini terasa seperti membuka lapisan demi lapisan luka batin yang selama ini tersembunyi di balik pernikahan yang terlihat normal. Ia bukan sekadar film tentang perselingkuhan. Ia adalah film tentang rasa tidak percaya diri, kecemasan, kesepian, dan kebutuhan untuk merasa diinginkan.

Sejak awal, film ini langsung memperlihatkan suasana dingin—baik secara visual maupun emosional. Tidak ada dramatisasi berlebihan. Tidak ada musik yang memaksa penonton merasa sedih atau marah. Semuanya mengalir pelan, seperti kehidupan sehari-hari yang perlahan retak tanpa suara.

Cerita yang Sederhana, Tapi Menghantam Emosi

Tokoh utama film ini adalah Lena, seorang dokter kandungan yang menikah dengan Sergey, aktor teater. Secara kasat mata, hubungan mereka terlihat stabil. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada konflik terbuka.
Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang kosong.

Lena mulai merasa bahwa suaminya tidak lagi menginginkannya. Hubungan fisik mereka jarang terjadi, komunikasi terasa datar, dan kecurigaan mulai tumbuh. Bukannya mencari kepastian lewat dialog terbuka, Lena justru mengambil jalan yang berbeda—ia mulai berselingkuh dengan pria-pria asing.

Yang menarik, film ini tidak menggambarkan perselingkuhan sebagai pelampiasan romantis. Tidak ada kisah cinta baru. Tidak ada gairah yang ditampilkan secara glamor. Semua terasa mekanis, dingin, dan penuh kegelisahan.

Hasrat sebagai Bentuk Validasi

Salah satu hal yang paling terasa setelah menonton Fidelity adalah bagaimana film ini memperlihatkan bahwa hasrat bukan selalu tentang cinta. Kadang, hasrat adalah tentang pembuktian diri.

Lena tidak berselingkuh karena ia jatuh cinta pada orang lain. Ia berselingkuh karena ia ingin merasa diinginkan. Ia ingin memastikan bahwa dirinya masih menarik, masih bernilai, masih hidup.

Di sinilah film ini terasa jujur dan menyakitkan. Ia tidak menghakimi karakternya, tapi juga tidak membenarkan tindakannya. Penonton dibiarkan menilai sendiri.

Akting yang Natural dan Tidak Berlebihan
Evgeniya Gromova sebagai Lena tampil sangat meyakinkan. Ekspresinya sering kali datar, tapi justru dari situlah emosi muncul. Tatapan kosong, gerakan kecil, napas yang tertahan—semuanya terasa nyata.

Tidak ada adegan ledakan emosi besar. Tidak ada monolog panjang penuh air mata. Semua konflik lebih banyak terjadi di dalam kepala karakter.

Pendekatan ini membuat film terasa realistis, bahkan kadang terlalu nyata. Seperti mengintip kehidupan seseorang yang sebenarnya tidak ingin dilihat.

Adegan Dewasa yang Tidak Sensasional
Fidelity memang dikenal sebagai film dengan adegan intim yang cukup eksplisit. Namun jika ditonton dengan jernih, adegan-adegan tersebut tidak dibuat untuk memancing sensasi semata.

Justru sebaliknya.

Adegan intim dalam film ini terasa canggung, sunyi, dan kadang menyedihkan. Kamera tidak berusaha memperindah tubuh atau menciptakan suasana erotis yang menggoda. Yang ditampilkan adalah jarak emosional, bukan kemesraan.

Dan mungkin di situlah kekuatannya.

Tentang Komunikasi yang Gagal

Jika ditarik lebih dalam, inti konflik Fidelity sebenarnya bukan soal perselingkuhan, melainkan soal komunikasi yang gagal.
Lena dan Sergey tidak benar-benar berbicara satu sama lain. Mereka hidup bersama, tapi tidak benar-benar saling memahami. Kecurigaan dibiarkan tumbuh. Ketidakpuasan tidak pernah diungkapkan secara jujur.
Film ini seperti pengingat bahwa dalam hubungan, diam bisa lebih berbahaya daripada pertengkaran.

Nuansa Dingin yang Konsisten

Secara visual, film ini dipenuhi warna-warna pucat dan pencahayaan minimalis. Atmosfernya terasa dingin, bahkan ketika adegan terjadi di ruang tertutup.

Pilihan sinematografi ini memperkuat kesan keterasingan. Lena sering terlihat sendirian dalam frame, meskipun berada di ruangan yang sama dengan orang lain.

Rasa sepi itu nyata.

Film yang Tidak Memberi Jawaban Mudah
Salah satu hal yang membuat Fidelity membekas adalah keberaniannya untuk tidak memberikan solusi instan. Film ini tidak menyederhanakan masalah menjadi hitam dan putih.

Apakah Lena salah?
Apakah Sergey bersalah?
Apakah pernikahan mereka memang sudah retak sejak awal?

Jawabannya tidak pernah benar-benar tegas.
Penonton dipaksa menghadapi ketidaknyamanan itu, dan mungkin itulah tujuan film ini.

Kesan Akhir

Kesan nonton Fidelity (2019) adalah pengalaman yang sunyi, berat, dan reflektif. Film ini tidak berteriak, tidak dramatis, tapi perlahan meresap.

Ia berbicara tentang kesetiaan bukan sebagai janji suci yang sederhana, melainkan sebagai sesuatu yang rapuh, kompleks, dan penuh pertanyaan.

Film ini mungkin tidak cocok untuk semua orang. Bagi sebagian penonton, ritmenya terasa lambat dan suasananya terlalu muram. Namun bagi yang menikmati drama psikologis yang intim dan jujur, Fidelity adalah tontonan yang menggugah.

Ia tidak menghibur dalam arti konvensional. Tapi ia mengajak berpikir.

Dan kadang, itu lebih berharga. (edo)