FILM, Jambiwin.com – Blade Fury (judul China: Zhuo dao ren) seolah datang di waktu yang tepat — bukan untuk merombak genre, tapi untuk mengingatkan kenapa kita masih suka film-film pendekar pedang itu sendiri.
Sedikit Tentang Blade Fury
Blade Fury adalah film aksi dan seni bela diri Tiongkok yang dirilis pada 28 September 2024, disutradarai oleh Qin Pengfei. Durasi film ini sekitar 90 menit, sebuah durasi yang pas untuk genre wuxia tanpa membuatnya terasa lambat atau terlalu panjang.
Film ini dibintangi oleh aktor-aktor seperti Ashton Chen (Pei Xing), Michael Tong (Han Lu), dan Chunyu Shanshan sebagai sosok yang dikenal dengan sebutan “White-headed Man”.
Sinopsis Singkat (Tanpa Spoiler Berat)
Kisah Blade Fury bermula dari sosok Pei Xing, seorang pemburu hadiah tanpa perasaan yang dikenal hanya sebagai “Jackal”. Dia dulu percaya hidup hanya soal uang, bukan soal prinsip. Namun ketika ia menyaksikan kekuatan yang kejam membasmi mereka yang memperjuangkan keadilan, sesuatu dalam dirinya berubah. Perubahan itu perlahan membangkitkan rasa keadilan dan memaksanya bertarung — bukan lagi untuk uang, tapi untuk menghukum para penjahat.
Dari sinilah konflik dimulai: seorang pendekar yang tadinya egois, kini bersinggungan dengan moralitas, pembalasan dendam, serta pertarungan demi mempertahankan apa yang ia percaya benar.
Kesan Terhadap Cerita
Kalau kamu pikir cerita ini sekadar tentang “balas dendam keren”, kamu akan terkejut. Di balik pedang dan darah yang bercecer, Blade Fury mempunyai arc yang cukup matang — perjalanan karakter dari pemburu hadiah keras kepala menjadi sosok yang berani mengambil resiko demi keadilan.
Dalam banyak adegan, terutama saat Pei Xing mulai mempertanyakan keputusannya, narasi film terasa lebih dalam dari sekadar “ayo bunuh dia”. Ia menggali apa arti keberanian, harga diri, dan konsekuensi pilihan. Itu memberi dimensi ekstra pada film yang bisa saja monoton kalau hanya bertumpu pada pertarungan fisik.
Akting & Karakter
Ashton Chen sebagai Pei Xing menjadi magnet utama. Ia membawa aura pendekar yang dingin di awal, kemudian berubah menjadi lebih reflektif tanpa terasa dibuat-buat. Emosinya muncul saat ia melihat korupsi, ketidakadilan, dan nyawa manusia yang hilang sia-sia — sesuatu yang tidak mudah diwujudkan tanpa kemampuan akting yang stabil.
Karakter pendukung seperti Han Lu dan White-headed Man menyediakan kontras yang kuat — satu lebih berbobot dalam moral, satu lagi mewakili bayangan masa lalu Pei Xing yang terus membayangi. Semua aktor melakukan tugas mereka tanpa terkesan berlebihan, membuat adegan drama dan aksi menyatu dengan natural.
Sinematografi & Nuansa Film
Secara visual, Blade Fury mengambil estetika yang gelap dan sedikit kelam — bukan seperti film wuxia klasik yang penuh palet warna terang. Seringkali, kamera mendekat saat momen penting, fokus pada ekspresi wajah tokoh, bukan hanya pada pedang yang beradu. Adegan pertarungan dipotong dengan ritme yang cepat namun tetap jelas, membuat setiap benturan terasa nyata — bukan sekadar gerakan lambat artistik yang sering kita lihat di film sejenis.
Efek suara pedang, musik latar yang tenang tapi intens, sampai pencahayaan yang redup memberi nuansa “serius” pada keseluruhan film. Itu membuat Blade Fury terasa lebih disukai sebagai film aksi berbalut drama, bukan sekadar tontonan ringan tanpa makna.
Pesan Moral & Makna Tersembunyi
Ini bagian yang paling menarik: film ini tampaknya ingin bertanya pada kita — apa yang terjadi ketika seorang manusia hanya melihat dunia hitam dan putih? Pei Xing memulai dari tempat yang dingin, tanpa empati, namun perlahan menyadari bahwa dunia penuh warna abu. Itu pergeseran penting yang memberi film ini rasa kemanusiaan.
Tema keadilan, harga diri, dan pembalasan dibingkai dengan cukup matang — bukan sekadar “aku akan membalas dendam sampai tuntas”. Ada dilema moral tentang kapan seseorang harus bertarung, kapan harus mundur, dan apa artinya mempertahankan nilai sendiri di tengah kekacauan.
Aksi dan Koreografi
Film ini tentu memuaskan di bagian aksi, dengan serangkaian duel pedang dan pertarungan yang intens. Tidak semuanya sempurna — beberapa adegan terlihat lebih bertumpu pada energi aktor daripada ide koreografi yang benar-benar baru. Namun, kemampuan para aktor untuk mempertahankan ritme dalam pertarungan membuatnya tetap seru ditonton, terutama bagi penggemar film wuxia sejati yang bisa menghargai seni bela diri klasik.
Kelebihan dan Kekurangan Blade Fury
Kelebihan:
Cerita transformasi karakter yang cukup jujur dan bermakna
Aksi pedang yang memuaskan meski tidak revolusioner
Akting lead yang cukup kuat
Visual gelap memberi nuansa berbeda dari kebanyakan film wuxia
Kekurangan:
Tema moral masih terasa familiar bagi yang sudah sering menonton film aksi serupa
Beberapa plot terasa agak cepat di akhir, meninggalkan sedikit ruang untuk pendalaman cerita
Layak Ditonton, Terutama untuk Pecinta Wu-xia
Setelah menonton Blade Fury, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, film ini bukan karya besar yang mengubah cara kita melihat film aksi Tiongkok. Di sisi lain, ia memberikan blok bangunan genre dengan cukup solid: karakter yang tumbuh, konflik batin yang relevan, dan aksi yang cukup memuaskan.
Bagi kamu yang menikmati film pendekar yang penuh aksi tetapi tetap punya hati, Blade Fury layak jadi tontonan di akhir pekan — apalagi jika kamu menyukai nuansa Tiongkok klasik yang dikemas modern.
Secara keseluruhan, saya merasa film ini memberikan hiburan yang adil untuk waktumu, tanpa terlalu berlebihan, dan tetap meninggalkan sedikit ruang untuk direnungkan setelah kredit bergulir. (edo)












