FILM, Jambiwin.com – Sebagai penikmat film kriminal, menonton Women of Mafia dan sekuelnya, Women of Mafia 2, rasanya seperti masuk ke lorong gelap dunia kriminal yang selama ini identik dengan laki-laki, senjata, dan hierarki kekuasaan maskulin. Namun film karya Patryk Vega ini justru membalik stigma itu. Di sini, perempuan bukan sekadar figuran, bukan pelengkap cerita, tetapi aktor utama yang menggerakkan roda kekuasaan, pengkhianatan, dan kekerasan dalam dunia mafia Polandia.
Women of Mafia (2018) membuka cerita dengan ritme cepat dan atmosfer brutal. Sejak menit awal, film ini sudah menegaskan bahwa penonton tidak akan diberi ruang untuk bernapas lama. Dunia mafia digambarkan apa adanya: keras, liar, dan penuh intrik. Namun yang membuatnya menarik adalah sudut pandang cerita yang menempatkan perempuan sebagai pusat konflik.
Tokoh Magda, seorang polisi wanita yang menyamar dan perlahan masuk ke lingkaran mafia, menjadi jembatan antara dunia hukum dan dunia kriminal. Di sinilah kekuatan narasi film pertama terasa. Magda bukan karakter polos. Ia kuat, cerdas, dan sering kali harus membuat keputusan moral yang abu-abu. Setiap langkahnya dipenuhi risiko, bukan hanya soal nyawa, tetapi juga identitas dan kepercayaan.
Film ini tidak berusaha mengglorifikasi mafia secara romantis. Kekerasan ditampilkan secara frontal, kadang berlebihan, tetapi justru itu menjadi ciri khas Patryk Vega. Adegan-adegan brutal, dialog kasar, dan visual gelap menjadi bahasa utama film ini. Women of Mafia seolah ingin mengatakan bahwa dunia ini tidak ramah, bahkan kepada mereka yang berusaha bertahan dengan cara paling cerdas sekalipun.
Masuk ke Women of Mafia 2 (2019), skala cerita terasa lebih besar dan lebih ambisius. Jika film pertama fokus pada infiltrasi dan pengenalan karakter, maka sekuelnya berbicara tentang kekuasaan, balas dendam, dan konsekuensi dari pilihan masa lalu. Magda tidak lagi sekadar pion dalam permainan. Ia telah menjadi bagian dari sistem yang ingin ia hancurkan.
Women of Mafia 2 terasa lebih politis dan lebih sinis. Dunia mafia tidak lagi berdiri sendiri, tetapi bersinggungan dengan aparat, kepentingan elite, dan permainan kekuasaan tingkat tinggi. Film ini menampilkan bagaimana batas antara penegak hukum dan kriminal semakin kabur. Semua orang memiliki harga, dan semua loyalitas bisa dibeli.
Karakter perempuan dalam sekuel ini semakin kompleks. Mereka tidak lagi digambarkan hanya sebagai korban atau penyintas, tetapi sebagai pengambil keputusan. Ada ambisi, kecemburuan, rasa takut, dan keberanian yang bercampur menjadi satu. Film ini seperti ingin menegaskan bahwa ketika perempuan masuk ke dunia mafia, mereka tidak hanya bertahan, tetapi mampu mendominasi.
Dari sisi akting, Women of Mafia dan Women of Mafia 2 menawarkan performa yang solid. Chemistry antar karakter terasa kuat, terutama dalam adegan-adegan konfrontasi. Dialognya tajam, meski kadang terasa vulgar dan berlebihan. Namun bagi sebagian penonton, justru di situlah daya tarik film ini.
Secara visual, kedua film ini konsisten menampilkan tone gelap dan dingin. Kota-kota Polandia digambarkan sebagai ruang urban yang keras dan tidak bersahabat. Sinematografi tidak terlalu artistik, tetapi efektif dalam membangun suasana. Musik latar yang agresif memperkuat ketegangan, meski terkadang terasa terlalu memaksa emosi penonton.
Jika dibandingkan, Women of Mafia 1 unggul dalam membangun fondasi cerita dan karakter. Sementara Women of Mafia 2 lebih berani dalam eksplorasi konflik dan skala cerita. Namun, sekuel ini juga terasa lebih kacau, dengan alur yang padat dan kadang terlalu cepat. Tidak semua konflik mendapat ruang penyelesaian yang memuaskan.
Meski begitu, kekuatan utama franchise ini tetap pada keberaniannya mengangkat perspektif perempuan dalam genre mafia. Di tengah dominasi film gangster klasik yang maskulin, Women of Mafia hadir sebagai anomali yang segar. Film ini tidak sempurna, tetapi jujur dalam kebrutalannya.
Menonton dua film ini sekaligus memberikan pengalaman yang cukup melelahkan, namun juga memikat. Ini bukan tontonan ringan. Ini film yang menuntut kesiapan mental, terutama bagi penonton yang tidak terbiasa dengan kekerasan eksplisit dan tema gelap.
Pada akhirnya, Women of Mafia dan Women of Mafia 2 bukan hanya tentang mafia. Ini adalah cerita tentang kekuasaan, identitas, dan pilihan hidup. Tentang bagaimana seseorang bisa berubah ketika berada terlalu lama di sisi gelap, dan tentang harga yang harus dibayar untuk bertahan hidup.
Bagi penonton yang menyukai film kriminal Eropa dengan gaya keras dan tanpa kompromi, dua film ini layak ditonton. Mereka tidak menawarkan kenyamanan, tetapi justru ketidaknyamanan itulah yang membuatnya berkesan.
Women of Mafia mungkin tidak akan menjadi film mafia terbaik sepanjang masa. Namun keberaniannya menempatkan perempuan sebagai pusat cerita membuatnya memiliki tempat tersendiri dalam genre ini. Dan ketika kredit akhir bergulir, satu hal terasa jelas: dunia mafia tidak lagi eksklusif milik laki-laki. (edo)












